Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Virus Nipah, Calon Pandemi Baru Setelah Covid-19?

Masalah Covid-19 belum selesai, kini para ahli kesehatan dunia menyatakan kekhawatiran bahwa akan ada calon virus penyebab pandemi bernama virus Nipah. Dinamakan demikian karena virus ini berasal dari sebuah kampung di Malaysia, tepatnya di Sungai Nipah. Virus ini disebut memiliki tingkat kematian 75% dan sampai saat ini belum ditemukan sama sekali vaksinnya. Adalah Supaporn Wacharapluesadee yang mengungkapkan hal tersebut setelah awalnya menyelidiki muasal Covid-19 di luar Wuhan, Cina.

virus nipah, nipah virus

Baca Juga: Mengenal Disease X, Calon Pandemi Baru Setelah Covid-19

Ia mendapati bahwa ada virus lain mematikan selain Covid-19, yaitu virus Nipah, yang juga bersumber dari kelelawar buah, hewan yang merupakan inang alami virus. Dalam laman resminya, WHO menyatakan bahwa virus ini tidak hanya menular kepada manusia tetapi kepada hewan peternakan, terutama babi. Virus ini sebenarnya bukanlah virus baru karena sudah pernah ada laporan infeksi di Malaysia pada 1999, lalu Singapura, dan berlanjut ke Bangladesh dan India.

WHO sendiri bahkan sudah memasukkan Nipah sebagai salah satu virus dalam 10 besar virus yang berpotensi menjadi ancaman bagi seluruh dunia. Hal tersebut berdasarkan ancaman potensial yang dimiliki virus tersebut, yaitu:

  • Mempunyai proses inkubasi yang lama hingga 45 hari yang berarti akan ada banyak kesempatan inang terinfeksi dan tidak menyadari saat menyebarkan
  • Mampu menginfeksi banyak jenis hewan sehingga menambah kemungkinan penyebarannya
  • Mampu menular melalui kontak langsung atau konsumsi makanan yang terkontaminasi

Menanggapi hal tersebut, Kementerian Kesehatan meminta kepada Indonesia untuk selalu meswapadai potensi penularan virus terutama dari kelelawar buah yang bergerak secara teratur dari Semenanjung Malaya ke Pulau Sumatera, terutama Provinsi Sumatera Utara. Demikian hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes, Didik Budjianto, seperti dilansir dari CNN Indonesia, Rabu, 27 Januari 2021.

Meski sejauh ini belum ada kasus karena Nipah tersebut, Kemenkes meminta kepada masyarakat untuk mengetatkan diri terhadap perdagangan ternak terutama babi sebagai hewan yang potensinya cukup besar terserang virus.

Gejala Terkena Virus

Lalu seperti apa dan bagaimana gejala virus Nipah? Berikut seperti yang dilansir dari CDC. Gejala biasanya akan muncul dalam 4-14 hari setelah terpapar virus. Penyakit ini awalnya muncul dalam bentuk demam dan sakit kepala selama 3-14 hari, dan sering kali mengarah ke tanda-tanda penyakit pernapasan, seperti batuk, sakit tenggorokan, dan kesulitan bernapas. Fase peradangan otak (ensefalitis) dapat terjadi dengan gejala berupa kantuk, disorientasi, dan kebingungan mental, yang mampu berkembang cepat menjadi koma dalam waktu 24-48 jam.

Baca Juga: Infodemik, Pengertian, Dampak, dan Cara Mengatasinya

Ada dua gejala dari virus ini, yaitu gejala awal dan gejala berat

Gejala awal berupa:

  • Demam
  • Sakit kepala
  • Batuk
  • Nyeri tenggorokan
  • Sulit bernafas
  • Muntah

Sedangkan gejala berat yang bisa terjadi adalah

  • Disorientasi, mengantuk, atau kebingungan
  • Kejang
  • Koma
  • Peradangan otak (ensefalitis) yang berakibat kematian

Kematian dapat terjadi pada 40-75% kasus. Efek samping jangka panjang pada penyintas infeksi virus Nipah adalah kejang permanen dan perubahan kepribadian. Infeksi penyebab gejala dan terkadang kematian ini (dikenal sebagai infeksi tidak aktif atau laten) juga bisa terjadi berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun setelah terpapar.

Pencegahan

Untuk pencegahan virus adalah sebagai berikut:

  • Sering mencuci tangan secara teratur dengan sabun dan air
  • Hindari kontak dengan kelelawar atau babi yang sedang sakit
  • Hindari area tempat kelelawar biasanya bertengger
  • Hindari konsumsi nira kurma mentah
  • Hindari konsumsi buah-buahan yang mungkin terkontaminasi oleh kelelawar
  • Hindari kontak dengan darah atau cairan tubuh siapa pun yang diketahui terinfeksi virus

Lokasi geografis lain mungkin berisiko terhadap wabah virus di masa mendatang, seperti kawasan tempat tinggal rubah terbang (kelelawar genus Pteropus). Habitat Kelelawar jenis ini berada di Kamboja, Indonesia, Madagaskar, Filipina, dan Thailand. Orang yang tinggal di atau mengunjungi daerah ini harus mempertimbangkan untuk mengambil tindakan pencegahan yang sama seperti mereka yang tinggal di daerah di mana wabah telah terjadi.

Selain langkah-langkah yang dapat diambil individu untuk menurunkan risiko infeksi virus Nipah, penting bagi ilmuwan, peneliti, dan komunitas yang berisiko untuk terus mempelajari untuk mencegah wabah di masa mendatang. Upaya pencegahan yang lebih luas meliputi:

  • Meningkatkan pengawasan hewan dan manusia di daerah virus diketahui berada
  • Meningkatkan penelitian tentang ekologi kelelawar buah untuk memahami habitat tinggal dan bagaimana mereka menyebarkan virus ke hewan dan manusia lain
  • Evaluasi teknologi atau metode baru untuk meminimalkan penyebaran virus di dalam populasi kelelawar
  • Memperbaiki alat untuk mendeteksi virus sejak dini di masyarakat dan ternak
  • Memperkuat protokol untuk pengaturan perawatan kesehatan pada praktik pengendalian infeksi standar untuk mencegah penyebaran dari orang ke orang

Baca Juga: Covid-19 Disebut Sebagai Sindemi, Apa Itu Sindemi?

Sekian mengenai virus Nipah yang dikhawatirkan menjadi calon pandemi baru di saat Covid-19 belum mereda. Cara terbaik untuk mencegah virus yang ada dan berpotensi menjadi pandemi adalah tetap melakukan protokol kesehatan dan hindari daerah-daerah rawan terkena virus, dan hindari kontak binatang pembawa virus. Jangan lupa juga untuk deteksi dini terutama Covid-19 di Prosehat. Caranya mudah, Sahabat bisa mengakses langsung via website dan aplikasi lalu klik Layanan Kesehatan dan pilih Rapid Test Covid-19. Informasi lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

Referensi:

  1. Media K. Mengenal Virus Nipah, Ancaman Pandemi Berikutnya di Asia Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2021 [cited 27 January 2021]. Available from: https://www.kompas.com/sains/read/2021/01/26/100000723/mengenal-virus-nipah-ancaman-pandemi-berikutnya-di-asia?page=all
  2. Nipah virus infection [Internet]. Who.int. 2021 [cited 27 January 2021]. Available from: https://www.who.int/health-topics/nipah-virus-infection#tab=tab_1
  3. Indonesia C. Kemenkes Minta Waspada Ancaman Virus Nipah dari Malaysia [Internet]. nasional. 2021 [cited 27 January 2021]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210127072312-20-598836/kemenkes-minta-waspada-ancaman-virus-nipah-dari-malaysia
  4. Signs and Symptoms | Nipah Virus (NiV) | CDC [Internet]. Cdc.gov. 2021 [cited 27 January 2021]. Available from: https://www.cdc.gov/vhf/nipah/symptoms/index.html
  5. Prevention | Nipah Virus (NiV) | CDC [Internet]. Cdc.gov. 2021 [cited 27 January 2021]. Available from: https://www.cdc.gov/vhf/nipah/prevention/index.html

 

Chat Dokter 24 Jam