Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800

Traveling Bikin Gemuk, Mitos atau Fakta?

Sobat sekalian mungkin sering mendengar, “Hati-hati, traveling bisa bikin berat badan naik alias gemuk, loh!”. Hmm, ini mitos atau fakta ya? Traveling atau jalan-jalan merupakan aktivitas yang disenangi oleh semua orang, terutama untuk menghilangkan kejenuhan dalam bekerja dan mengurangi stres. Pasti Sobat pun pernah melakukannya: ambil cuti saat sudah terlalu jenuh dengan pekerjaan, pergi traveling mengunjungi beberapa tempat baru, lalu pulang dengan semangat untuk kembali bekerja. Namun, selain baik untuk menghilangkan stres, apakah traveling juga baik untuk kesehatan? Apalagi bagi Sobat yang bahkan pekerjaannya mengharuskan untuk traveling atau disebut “business travel”, apakah membuat Sobat menjadi sehat atau justru tidak sehat dan menggemuk? Yuk, kita simak lebih lanjut.

Kegemukan atau obesitas ialah masalah kesehatan dunia yang sangat kompleks. Banyak sekali faktor yang dapat menyebabkannya, mulai dari faktor genetik, gaya hidup, pola makan, aktivitas, pekerjaan, dan lain-lain. Tidak hanya itu, obesitas juga berhubungan dengan berbagai penyakit lain seperti diabetes, gangguan jantung, dan berbagai penyakit metabolik lainnya. Berbagai penelitian pun dilakukan untuk dapat mengintervensi masalah ini dan terus mencari berbagai penyebab yang berkontribusi terhadap terjadinya obesitas. Meskipun saat ini peningkatan prevalensi obesitas sudah mulai melambat dan cenderung stabil, namun jumlah orang yang menderita obesitas di dunia masih banyak. Akumulasi peningkatan berat badan yang sedikit demi sedikit namun konsisten sejak usia muda juga akan menyebabkan obesitas di kemudian hari. Dan ternyata penelitian yang dilakukan melihat bahwa peningkatan konsumsi makanan yang berlebih dalam periode yang sebentar saja dalam setahun dapat berdampak signifikan pada peningkatan berat badan, seperti pada saat musim liburan. Tentu saat-saat liburan ini paling sering digunakan untuk traveling.

Traveling atau jalan-jalan tentu sangat menyenangkan, siapa yang tidak suka? Apalagi jika bersama dengan keluarga dan sahabat tercinta. Bahkan pasti ada di antara Sobat pembaca yang juga memiliki hobi traveling.

Traveling yang dapat dilakukan juga bermacam-macam, mulai dari traveling yang sederhana dengan hanya mengunjungi tempat yang tidak terlalu jauh, menginap beberapa hari dengan keluarga atau sahabat, sampai traveling yang cukup panjang dan berat seperti naik gunung dan lain-lain. Saat ini pun cukup mudah bagi kita untuk bepergian ke suatu tempat baru dengan maraknya jasa open trip. Seiring dengan hal tersebut, ternyata juga marak informasi yang beredar bahwa traveling akan membuat gemuk. Tentu ini berita buruk apalagi bagi Sobat yang sedang menjalani program diet.

Ternyata benar loh Sobat, penelitian terbaru menemukan bahwa traveling dapat menyebabkan peningkatan berat badan yang cukup signifikan dan dapat berujung pada obesitas, bahkan traveling yang singkat sekalipun. Peningkatan berat badan tersebut cenderung persisten hingga 6 minggu setelahnya. Dari 122 orang berusia 18-65 tahun yang berlibur dalam jangka waktu 1 sampai 3 minggu yang diteliti, 61% di antaranya pulang dengan peningkatan berat badan yang signifikan. Hanya sedikit yang kembali berlibur dengan penurunan berat badan. Penemuan ini menjadi alarm bagi kita semua untuk lebih berhati-hati dan menyelidiki apa penyebab di balik peningkatan berat badan saat traveling.

Untuk dapat mengerti apakah ini mitos atau fakta, Sobat sekalian harus benar-benar paham apa yang menyebabkannya. Nah, apa sih penyebabnya? Apalagi sering kali peningkatan berat badan ini tidak begitu disadari kecuali Sobat sering berolahraga dan memantau berat badan secara rutin. Meski kebanyakan pulang dengan peningkatan berat badan, namun ada juga yang tidak dan bahkan justru mengalami penurunan berat badan. Tentu banyak faktor yang dapat berhubungan dengan hal ini, mulai dari pola konsumsi saat traveling, transportasi yang digunakan, pola aktivitas fisik, lamanya traveling, hingga jenis traveling yang dilakukan.

Faktor yang paling penting menyebabkan peningkatan berat badan setelah traveling adalah pola konsumsi makanan lebih banyak dari biasanya saat sedang traveling. Biasanya saat traveling berbagai jenis makanan disediakan dalam jumlah banyak dan camilan akan selalu tersedia agar kita selalu kenyang dan happy saat traveling.

Jenis makanan yang disajikan biasanya adalah makanan yang disenangi semua orang seperti makanan cepat saji, goreng-gorengan, dan lain-lain. Selain itu, banyak yang mengonsumsi alkohol saat sedang berlibur untuk merayakan kebersamaan dengan sahabat. Tidak hanya makanan yang sudah disiapkan, sering kali Sobat yang berlibur mengunjugi tempat baru akan mencoba berbagai makanan unik yang ditemukan. Faktor-faktor lain ikut ambil andil memperberat kondisi ini, seperti traveling yang cenderung duduk lama di dalam kendaraan dan jarang berjalan kaki serta tidak adanya aktivitas fisik yang bermakna selama liburan.

Bagaimana dengan Sobat yang pekerjaannya mengharuskan untuk traveling atau bussiness travel? Ternyata tidak jauh berbehda, penelitian menunjukkan bahwa business travel juga dapat menyebabkan obesitas dan gangguan kesehatan lainnya seperti gangguan tidur. Penyebabnya juga biasanya karena pola makan yang tidak teratur, cenderung memilih makanan cepat saji, dan tingginya konsumsi alkohol. Jadi mereka yang pekerjaannya mengharuskan untuk traveling pun juga dihantui dengan berbagai masalah kesehatan.

Wah, tampaknya mulai banyak yang tidak ingin traveling ya setelah mengetahui tentang hal ini? Jangan khawatir, penelitian menunjukkan traveling juga memberikan berbagai manfaat seperti menurunkan tingkat stres dan menurunkan tekanan darah sistolik yang berdampak positif bagi kesehatan. Peningkatan berat badan karena traveling dapat dicegah dengan mengubah pola makan yang tidak menyehatkan saat traveling, kurangi camilan yang tidak terlalu perlu, hindari mengonsumsi alkohol, dan perbanyak aktivitas fisik seperti berjalan kaki saat sedang traveling.

Mitos atau fakta? Saat ini Sobat pasti mengerti bahwa semuanya tergantung bagaimana Sobat mengatur pola makan saat traveling dan menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan peningkatan berat badan. Yuk, meski sedang traveling dan bersenang-senang, jangan lupa untuk tetap menerapkan gaya hidup yang sehat.
Jangan lupa, Sobat, jika ingin mencari tahu informasi kesehatan lainnya, coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat sekarang juga. Info lebih lanjut bisa menghubungi Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS/WhatsApp: 0811-18-16-800.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Díaz-Zavala RG, Castro-Cantú MF, Valencia ME, Álvarez-Hernández G, Haby MM, Esparza-Romero J. Effect of the Holiday Season on Weight Gain: A Narrative Review. Journal of Obesity, 2017;2085136(2017):1-13.
  2. Cooper JA, Tokar T. A prospective study on vacation weight gain in adults. Physiology and Behavior. 2016;156:43–7.
  3. Preidt R. Vacation weight gain can mean ‘creeping obesity’. Diupdate 6 Februari 2016. Diakses 12 September 2018. Available at: https://www.webmd.com/diet/obesity/news/20160207/vacation-weight-gain-can-lead-to-creeping-obesity-study-finds
  4. Science Daily .Vacations can lead to weight gain, contribute to ‘creeping obesity’. Diupdate 1 Februari 2016. Diakses 12 September 2018. Available at: https://www.sciencedaily.com/releases/2016/02/160201220320.htm
  5. Yang J, French S. The travel-obesity connection: Discerning the impacts of commuting trips with the perspective of individual energy expenditure and time use. Environment and Planning B: Planning and Design. 2013;40(4):617–629.
  6. Richards CA & Rundle AG. Business travel and self-rated health, obesity, and cardiovascular disease risk factors. Journal of Occupational and Environmental Medicine. 2011;53(4):358–363.

WhatsApp Asisten Maya saja