Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Sering Tonton Video Kekerasan, Tingkatkan Risiko Trauma & Depresi

Dunia sosmed alias sosial media sudah menjadi santapan kita sehari-hari. Mungkin sebagian besar Sobat sekalian setiap terbangun pagi hari langsung membuka instagram, facebook, atau sekadar membuka status whatsapp. Rasanya ada yang kurang jika tak aktif menelusuri sosmed ya Sobat? Well, tak ada yang salah dengan hal tersebut asalkan Sobat tetap memprioritaskan tugas dan kewajiban harian yang ada.

Namun, yang menjadi pertanyaan ialah konten berita atau informasi apa yang Sobat gemari? Olahraga, hiburan, kesehatan, otomotif, musik atau lainnya? Apapun minat Anda, satu hal yang tak dapat dihindari dari dunia sosmed yaitu berita viral. Seperti diketahui, viral merupakan sesuatu hal informasi, kejadian, berita dan lainnya yang menyebar luas secara cepat, sehingga diibaratkan seperti virus, dan dalam waktu yang singkat dapat menjadi gempar melalui dunia maya, internet atau media sosial.

Sayangnya berita viral saat ini semakin tak terbendung. Konten berupa foto maupun video yang tak layak dilihat dengan mudah beredar luas. Seperti baru-baru ini yang mengejutkan yaitu video kekerasan terhadap suporter Persija Jakarta yang diduga dikeroyok suporter Persib Bandung. Bahkan dari aksi kekerasan tersebut, Haringga Sirla, anggota The Jakmania tersebut harus menghembuskan napas terakhirnya.

Tahukah Sobat bahwa menonton video kekerasan memberi dampak psikologis? Menurut suatu temuan studi, Dr. Pam Ramsden dari Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Bradford menyatakan kalau menonton peristiwa kekerasan dapat membuat seseorang mengalami trauma atau Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Dalam pertemuan British Psychology, Dr. Pam Ramsden mengatakan paparan peristiwa kekerasan dapat membuat orang-orang seakan mengalami sendiri hal itu dan berujung pada trauma. Yup, media sosial memungkinkan orang-orang melihat peristiwa kekerasan bahkan dengan detail yang menakutkan. Menonton peristiwa semacam ini dan merasakan kesedihan yang mendalam karena ini, secara langsung bisa berdampak pada kehidupan kita. Selain itu, bila kita terlalu sering melihat video kekerasan, hal tersebut meningkatkan peluang untuk merasa cemas, depresi, stres kronis, insomnia.

Di sisi lain, ada pula penelitian dari Profesor Josh Gubler dan David Wood pada sekitar seribu orang partisipan melalui beberapa eksperimen yang dilakukan. Salah satu eksperimennya yakni dengan cara partisipan diberi sebuah potongan film. Terdapat 2 film yang digunakan untuk eksperimen tersebut. Film pertama hanya berisi layar biru dan suara yang menyertainya, sedangkan pada film kedua terdapat adegan dan dialog yang berisi kekerasan. Selanjutnya partisipan diminta untuk menonton seluruh isi video tersebut. Melalui percobaan itu, diketahui bahwa partisipan yang menonton video berisi kekerasan cenderung untuk berbohong ketika diberi pertanyaan mengenai potongan film tersebut.

Nah, Sobat setelah mengetahui dampak psikologis dari paparan video kekerasan seperti ulasan di atas, semoga saat ini kita lebih berhati-hati menyeleksi atau bahkan tidak mudah berbagi info (link video kekerasan) pada orang sekitar ya. Salam sehat!

instal aplikasi prosehat

Referensi:
– Dampak buruk menonton kekerasan – ANTARA News [Internet]. Antara News. 2018 [cited 25 September 2018]. Available from: antaranews.com/berita/494921/dampak-buruk-menonton-kekerasan
– Watching Violent News Video Can Be Hazardous to Your Health [Internet]. Psychology Today. 2018 [cited 25 September 2018]. Available from: psychologytoday.com/intl/blog/here-there-and-everywhere/201710/watching-violent-news-video-can-be-hazardous-your-health
– Permana R. Kebiasaan nonton film action ternyata bisa buat kamu jadi pembohong | merdeka.com [Internet]. merdeka.com. 2018 [cited 25 September 2018]. Available from: merdeka.com/gaya/kebiasaan-nonton-film-action-ternyata-bisa-buat-kamu-jadi-pembohong.html

Chat Asisten ProSehat aja