Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800

Persiapan yang Diperlukan Sebelum Pembiusan atau Anestesi

Mendengar kata operasi atau bedah memang terdengar menakutkan bagi sejumlah pasien yang tengah menjalani pengobatan. Sebelum pasien melakukan pembedahan, baik pembedahan besar atau pembedahan kecil diperlukan anestesi atau pembiusan. Anastesi berasal dari bahasa Yunani yang artinya An– yaitu tidak atau tanpa dan Aesthetos yang artinya persepsi atau kemampuan untuk merasakan. Secara umum anestesi dapat berarti suatu tindakan untuk menghilangkan rasa sakit ketika melakukan prosedur pembedahan (operasi) dan atau tindakan lainnya yang menimbulkan rasa nyeri pada tubuh.

Umumnya, anestesi pada pembedahan besar dilakukan oleh ahli anestesi yaitu Dokter Spesialis Anestesi. Peran seorang Dokter Anestesi sangatlah penting mulai dari sebelum pembedahan yaitu memastikan bahwa kondisi pasien saat itu memungkinkan untuk dilakukan tindakan pembiusan dan tindakan operasi. Sedangkan pada saat tindakan operasi, seorang Dokter Anestesi berperan agar pasien nyaman saat tindakan operasi, dengan cara memastikan dan memantau pasien dalam keadaan mati rasa, pasien dalam keadaan tidak sadar atau tertidur saat pembedahan dan memantau rasa sakit saat pembedahan berlangsung (dengan memantau monitor tanda-tanda vital pasien). Sedangkan peran setelah prosedur anestesi, seorang Dokter Anestesi memastikan pasien sadar kembali setelah dilakukan pembiusan, meminimalkan efek samping dari pembiusan dan memantau tanda-tanda vital pasien setelah tindakan pembiusan serta memanajemen rasa sakit yang mungkin timbul akibat pembedahan.

Peran Dokter anestesi sangatlah penting dalam kesuksesan suatu operasi. Namun untuk tindakan-tindakan pembedahan ringan yang hanya memerlukan anestesi lokal, tidak selalu dikerjakan oleh Dokter Spesialis Anestesi namun Dokter Umum juga dapat melakukan tindakan tersebut sesuai dengan kompetensi Dokter Umum.

Cara kerja anestesi yaitu dengan cara mem-block sinyal pada jaringan saraf dari rasa sakit akibat tindakan medis yang diberikan (misalnya, pada kasus pembedahan). Jenis anestesi sangat beragam, berikut ini jenis-jenis anestesi yang umumnya digunakan:

  1. Anestesi lokal
  2. Anestesi regional
  3. Anestesi umum atau general

Anestesi lokal

Anestesi lokal digunakan pada tindakan medis yang sifatnya minor (operasi kecil), pada tindakan yang dilakukan dengan anestesi lokal maka pasien akan tetap sadar dan terbangun. Misalnya anestesi pada tindakan pencabutan gigi (penyuntikan, penyemprotan atau pengolesan anestesi lokal hanya di bagian gusi pada gigi yang mau dicabut), atau tindakan medis kulit wajah pada perawatan wajah menggunakan anestesi krim yang dioles pada bagian wajah yang akan ditindak.

Anestesi regional

Pada anestesi regional, bagian tubuh yang mati rasa akan lebih luas dibandingkan anestesi lokal. Namun, pasien masih dalam keadaan sadar. Misalnya pada anestesi operasi sesar (bagian saraf yang diblok adalah saraf perifer, epidural dan saraf spinal. Namun yang sering dipakai pada kasus anestesi operasi sesar adalah anestesi regional epidural) dimana pasien akan merasakan mati rasa di bagian pinggang, perut sampai ujung kaki. Pemberian anestesi ini dengan cara penyuntikan di bagian sumsum tulang belakang.

Anestesi umum atau general

Anestesi umum dilakukan untuk tindakan operasi yang lebih besar. Pada kondisi ini, pasien dalam keadaan tertidur atau tidak sadar. Contoh operasi besar yang dilakukan dengan bius total misalnya operasi otak, operasi jantung, operasi pembedahan perut. Anestesi umum atau bius total dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara inhalasi (menghirup gas yang berisi obat anestesi) dan suntikan melalui intravena atau pembuluh darah.

Sebelum melakukan tindakan anestesi di atas, tentunya ada beberapa prosedur atau persiapan yang harus dilakukan yaitu :

  1. Menentukan apakah pasien yang akan melakukan tindakan anestesi tersebut dapat dilakukan anestesi. Misalnya:
  • Pasien mempunyai riwayat alergi terhadap suatu obat tertentu.
  • Pasien memiliki alergi atau infeksi di area yang akan diinjeksikan (misalnya pada pasien dengan anestesi epidural, pasien memiliki luka pada tulang belakang).
  • Pasien menderita nyeri punggung kronik atau disebut dengan LBP (Low Back Pain).
  • Riwayat pengobatan yang diberikan pasien misalnya, pasien sedang mengonsumsi obat-obatan pengencer darah seperti aspirin, penggunaan obat nyeri yang berlangsung lama.
  • Riwayat penyakit pasien atau kondisi pasien saat ini yang tidak memungkinkan untuk dapat dilakukan anestesi, misalnya tekanan darah tinggi, penyakit jantung tidak terkontrol, hipovolemi, diabetes tidak terkontrol, usia pasien yang terlalu tua.
  1. Tes Darah

Sebelum melakukan tindakan pembedahan dan anestesi, pasien diminta untuk melakukan tindakan tes laboratorium darah untuk menilai jumlah Hemoglobin (Hb) atau jumlah sel darah merah untuk mempersiapkan apakah pasien memerlukan transfusi darah selama operasi berlangsung, serta menilai apakah jumlah leukosit (penanda infeksi) terlalu tinggi misalnya pada pasien sepsis (jumlah bakteri pada pembuluh darah terlalu tinggi) maka anestesi total tidak dapat dilakukan.

  1. Elektrokardiogram (EKG)

Pemeriksaan EKG atau rekam jantung untuk menilai apakah pasien mempunyai kelainan listrik jantung. Pada pasien yang menderita kelainan listrik pada jantung maka akan dipertimbangkan apakah dapat dilakukan atau tidak prosedur anestesi tersebut.

  1. Puasa sebelum tindakan anestesi umum dan tindakan pembedahan

Pada umumnya puasa dilakukan sebelum tindakan anestesi umum atau bius total dan pembedahan bertujuan untuk mengosongkan lambung. Pengosongan lambung bertujuan untuk meminimalisir masuknya makanan dari lambung ke paru-paru, karena pada saat anestesi maka usus akan berhenti bergerak sehingga memungkinkan makanan akan masuk ke dalam sistem pernapasan dan menghambat jalan napas. Untuk itu, dokter sering kali menyarankan untuk melakukan puasa minimal 8 jam. Namun, pada kasus-kasus tertentu misalnya operasi emergensi atau darurat yang memerlukan operasi segera, jarang dilakukan persiapan puasa.

EFEK SAMPING YANG MUNGKIN TIMBUL SETELAH ANESTESI

Pada umumnya, anestesi jarang sekali memberikan efek samping pada pasien, terutama apabila pasien hanya melakukan anestesi lokal saja atau kondisi pasien dalam keadaan baik. Efek samping yang timbul dapat bervariasi antara satu pasien dengan yang lain, misalnya usia pasien, riwayat penyakit pasien, respons tubuh seseorang terhadap obat-obatan yang diberikan selama pembiusan, riwayat pasien dalam mengkonsumsi obat-obatan pengencer darah, riwayat kebiasaan atau gaya hidup pasien misalnya mengkonsumsi alkohol, rokok atau malah mengonsumsi obat-obatan terlarang, yang jelas meningkatkan risiko terjadinya efek samping setelah anestesi dilakukan. Namun, pada pasien dalam kondisi sehat, tidak menutup kemungkinan untuk timbul efek samping setelah anestesi yang harus tetap diantisipasi. Misalnya  menggigil, nyeri pada tenggorokan (pada anestesi total dengan alat bantu napas), infeksi pada saluran napas (pneumonia), nyeri kepala, efek bingung atau kehilangan ingatan sementara (biasa terjadi pasien dengan usia tua), mual dan muntah.

instal aplikasi prosehat Referensi:

  1. (2018). Prepare yourself mentally and physically before surgery. [online] Available at: health24.com/Medical-schemes/Hospitals/Prepare-yourself-mentally-and-physically-before-surgery-20150421 [Accessed 7 Dec. 2018].
  2. Newman, T. and Deborah Weatherspoon, C. (2018). General anesthesia: Side effects, risks, and stages. [online] Medical News Today. Available at: medicalnewstoday.com/articles/265592.php [Accessed 7 Dec. 2018].
  3. uk. (2018). General anaesthesia. [online] Available at: nhs.uk/conditions/general-anaesthesia/ [Accessed 7 Dec. 2018].
  4. (2018). What Is General Anesthesia?. [online] Available at: webmd.com/a-to-z-guides/what-is-general-anesthesia#1 [Accessed 7 Dec. 2018].
  5. Zambouri, A. (2018). Preoperative evaluation and preparation for anesthesia and surgery. [online] PubMed Central (PMC). Available at: ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2464262/ [Accessed 7 Dec. 2018].

WhatsApp Asisten Maya saja