Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Dampak Perselingkuhan di Tengah Pandemi Bagi Kesehatan Mental Apa Saja?

Pandemi Covid-19 mengharuskan banyak orang untuk melakukan aktivitas di rumah. Salah satunya bekerja, atau yang biasa disebut Work From Home (WFH). Dengan adanya WFH, banyak yang merasa jenuh dengan kegiatan yang hanya itu-itu saja. Dampak hal tersebut salah satunya bisa berakibat ke perselingkuhan.

perselingkuhan di tengah pandemi

Baca Juga: Rangkuman Webinar Tips Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Pandemi

Sebenarnya, konsekuensi logis dari tujuan pernikahan adalah diikatkan sebuah komitmen untuk mengarungi sebuah pernikahan dalam waktu yang tidak terbatas, atau bahkan berlangsung seumur hidup, dan selamanya. Namun, realita menunjukkan janji kesetiaan ketika akad nikah seringkali diabaikan.

Perselingkuhan tentunya akan banyak memberikan dampak negatif karena biasanya mempengaruhi seluruh aspek dalam kehidupan dan berdampak dalam jangka panjang. Biasanya muncul perasaan negatif seperti marah, sedih, kecewa, tidak, berharga, dikhianati, dan benci, akan dirasakan oleh korban perselingkuhan,

Menurut Satiuadarma (2001), perselingkuhan yang dialami oleh korban menghasilkan luka dan sakit hati yang muncul akibat adanya cedera yang dialami pada kesatuan hubungan interpersonal yang diyakini sebagai selubung rasa aman dalam kehidupannya.

Berikut Dampak Perselingkuhan di Tengah Pandemi bagi Kesehatan Mental

Marah

Dampak perselingkuhan terhadap kesehatan mental, salah satunya kemarahan. Kemarahan muncul akibat perasaan kehilangan, sehingga menjadi tidak berdaya dan tidak jarang menyebabkan perubahan suasana hari yang berlangsung cepat. Bahkan marah biasanya dapat terjadi dalam kurun waktu yang tidak sebentar.

Sedih

Dampak dari perselingkuhan adalah sedih, karena sedih merupakan perasaan yang paling intens dan wajar terjadi. Kesedihan dan perasaan kehilangan mengakibatkan korban menjadi menutup diri dengan orang lain. Biasanya korban akan mengalami emosi yang mengguncang kestabilan jiwanya. Keguncangan jiwa seorang korban dialami secara bertahap.

Tahap pertama adalah syok, karena masih sulit mempercayai kenyataan yang terjadi. Baru kemudian akan timbul rada marah dan kecewa. Dan tahap ketiga barulah ada penyesalan. Biasanya korban akan menyalahkan dirinya sendiri, dan akan menelaah dirinya agar menyadari kekurangan-kekurangannya.

Depresi

Dampak perselingkuhan terhadap kesehatan mental adalah depresi, salah satunya. Setelah melewati sedih dan menyalahkan diri sendiri, biasanya korban mulai timbul depresi yang berkepanjangan. Terlebih harus mengalami dua pilihan. Yaitu tetap bertahan atau tetap bersama namun rela diselingkuhi.

Baca Juga: Stres dan Panik Hadapi Corona Justru Turunkan Imun Tubuh

Namun, bagi pasangan yang memutuskan untuk tetap bertahan dalam hubungannya, dampak negatif akan sangat dirasakan oleh korban. Rasa sakit yang amat dalam membuat korban menjadi mudah marah dan kehilangan kepercayaan diri. Serta juga memiliki trauma yang mendalam atau mempengaruhi pola relasi pasangannya dengan orang lain.

Kesulitan memercayai orang lain

Jika suatu hubungan berakhir karena perselingkuhan, pasti ada lapisan yang hancur dan mempengaruhi kepercayaan yang telah dimiliki. Karena perselingkuhan membawa emosi dan pikiran yang sangat kompleks, tentang amarah, sakit hati, ragu, penghinaan, kebingungan, dan ketakutan. Jadi tidak hanya rasa sakit hati yang membuat move on menjadi lebih sulit, namun juga sulitnya percaya lagi kepada orang lain.

Lemahnya kepercayaan diri

Bagian yang paling berbahaya dari dampak selingkuh terhadap kesehatan mental adalah hilang atau melemahnya kepercayaan diri korban. Seorang pakar kencan, Cherly Chong mengatakan, berusahalah agar tidak jatuh dalam perangkap membandingkan diri sendiri dengan selingkungan sang mantan.

Karena biasanya bukan hanya rasa kehilangan yang hadir, namun juga rasa malu karena digantikan oleh orang lain. Sehingga korban terus membandingkan dirinya dengan selingkuhannya. Padahal perbandingan tersbeut bukanlah kenyataan dari situasi yang ada. Korban seharusnya bisa menyadari bahwa selingkuh merupakan keputusan masing-masing individu, dan bukanlah kesalahan korban.

Apakah Hal ini Juga Berdampak pada Anak?

Selain berdampak pada korban perselingkuhan, perselingkuhan di tengah pandemi juga mempunyai dampak kepada psikis anak dalam hubungannya. Karena situasi tersebut, anak cenderung mengalami beban mental. Anak yang belum bisa mengekspresikan emosinya, biasanya akan menunjukkan gejala kecemasan.

Antara lain, mengompol, menyendiri, mengisap jempol, bermimpi buruk, dan memiliki emosi yang tidak stabil. Hal tersebut muncul kepada anak sebagai respons ketakutan, bahwa kebahagiaan keluar mereka akan sirna.

Sementara, apabila anak sudah mulai beranjak dewasa, maka yang didapatkan adalah rasa marah, dikhianati, dan mungkin akan lebih berani mengekspresikan kekesalannya. Seperti yang dijelaskan oleh psikolog anak, Anna Surti, ketika ada anak yang memergoki secara langsung perselingkuhan orangtuanya, mereka akan kebingungan.

Dampak perselingkuhan bagi anak lainnya adalah menurunnya prestasi belajar, berkurangnya rasa percaya diri, depresi, dan bisa jadi berlaku kasar. Secara jangka panjang, perselingkuhan bisa membuat anak menyimpan amarah dan luka sekaligus kepada orangtuanya yang berselingkuh.

Baca Juga: 14 Kesehatan Mental pada Anak

Bahkan, dampak perselingkuhan bagi anak juga bisa menyebabkan trauma dan memiliki kecemasan dalam membina hubungan intim di kala dewasa nanti. Dan akan sulit percaya pada orang lain, terutama pasangan. Karena merasa teringat perselingkuhan yang telah dilakukan oleh orangtuanya.

Bahkan, penelitian psikolog klisis Ana Nogales, menunjukkan bahwa perselingkuhan orantua mengakibatkan 75 persen anak jadi merasa dikhianati. Kemudian sebanyak 80 persen, perselingkuhan orangtuanya membawa dampak mereka takut dalam membina hubungan. Serta 70 persen anak akan sulit mempercayai orang lain. Bahkan, penelitian juga menemukan pola berulang yang terjadi pada hubungan si anak saat dewasa.

Sahabat Sehat, sudah tahu kan dampak dari perselingkuhan  di tengah pandemi terhadap kesehatan mental. Maka dari itu, sebelum melakukan sesuatu, Sahat Sehat harus memikirkannya terlebih dahulu. Jangan sampai melakukan sesuatu yang nantinya berujung merugikan diri sendiri dan orang lain, apalagi orang-orang tersayang.

Namun sesungguhnya, para korban perselingkuhan, janganlah selalu menyalahkan diri sendiri. Karena pada dasarnya, bukan kalianlah yang salah dalam keretakan hubungan kalian. Namun, karena yang selingkuh memang salah.

Baca Juga: Bagaimana Supaya Tetap Akur Selama Pandemi?

Kondisi di tengah pandemi Covid-19, banyak hal yang bisa membuat hubungan Sahabat Sehat dengan pasangan semakin harmonis, bahkan apabila bertemu di rumah seharian. Sahabat Sehat bisa menciptakan suasan yang nyaman dan damai di rumah selama WFH.

Apabila Sahabat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai kesehatan mental dan produk-produk kesehatan yang berkaitan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

Referensi

  1. Putri, A., 2021. Perselingkuhan Orangtua Berisiko Merusak Mental Anak – Tirto.ID. [online] tirto.id. Available at: <https://tirto.id/perselingkuhan-orangtua-berisiko-merusak-mental-anak-cAqr> [Accessed 5 March 2021].
  2. liputan6.com. 2021. 2 Dampak Psikologis yang Terjadi Bila Pasangan Selingkuh. [online] Available at: <https://www.liputan6.com/health/read/4106251/2-dampak-psikologis-yang-terjadi-bila-pasangan-selingkuh> [Accessed 5 March 2021].
  3. Adam, A., 2021. Dampak Perselingkuhan Suami Terhadap Kesehatan Mental dan Fisik Istri. [online] Journal.iain-ternate.ac.id. Available at: <http://journal.iain-ternate.ac.id/index.php/alwardah/article/view/291> [Accessed 5 March 2021].

 

 

 

Chat Asisten ProSehat aja