Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Mengenal Coronaphobia, Ketakutan Berlebihan Terhadap Virus Corona

Virus Corona memang salah satu virus yang dapat mematikan. Keberadaannya hingga saat ini telah menginfeksi dan mematikan jutaan nyawa di dunia, termasuk di Indonesia. Belum ada obat pasti untuk mematikan virus SARS CoV-2 ini. Tindakan terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan upaya pencegahan, seperti pemberlakuan protokol kesehatan dan vaksinasi.

coronaphobia, fobia corona

Baca Juga: Mengenal Trypanophobia, Fobia Jarum Suntik saat Vaksinasi Corona

Banyak orang yang cukup waspada dengan mematuhi protokol kesehatan yang dianjurkan supaya tidak tertular virus Corona. Namun, rupanya kewaspadaan ini oleh sebagian orang ditanggapi dengan perilaku kecemasan berlebihan yang dikenal dengan coronaphobia atau fobia terhadap Corona.

Coronaphobia berbeda dengan covidiot atau orang-orang yang keras kepala, tidak mau menjalankan protokol kesehatan, dan menganggap Corona tidak ada. Fobia ini tentu saja sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental apabila dibiarkan terus-menerus. Lalu, bagaimana dan seperti apa fobia terhadap Corona itu? Yuk, mari simak bersama-sama di bawah ini!

Seperti Apa Gejalanya?

Dilansir dari Health.com, coronaphobia didefinisikan sebagai respons berlebihan terhadap rasa takut akan tertular virus penyebab COVID-19 yang dapat menimbulkan gejala fisiologis, stres yang signifikan akibat masalah pribadi dan pekerjaan, perilaku mencari reassurance (ketentraman hati, penghiburan) dan rasa aman yang berlebihan, serta menghindari tempat umum/keramaian, sehingga menyebabkan gangguan aktivitas sehari-hari.

Gejala fisiologis yang dimaksud adalah kekhawatiran terus-menerus, jantung berdebar-debar, tremor, sulit bernapas, pusing, hingga perubahan nafsu makan dan pola tidur.

Apa Penyebabnya?

Coronaphobia disebabkan oleh banyak faktor. Salah satu faktor penyebabnya adalah ketidakpastian akan situasi dalam pandemi, seperti ketakutan terpapar virus atau menghadapi kenyataan bahwa gaji bulanan yang biasa diterima akan dipotong sebagai dampak pandemi yang luar biasa terhadap kinerja perusahaan.

Baca Juga: Lakukan Langkah Ini Jika Stres Karena Corona

Hal lainnya adalah tidak siap dalam mengadopsi kebiasaan baru yang berlaku, seperti harus mematuhi protokol kesehatan atau transisi dari pekerjaan offline ke online yang menuntut banyak penggunaan teknologi, serta ketakutan yang muncul akibat banyaknya pemimpin dunia dan selebriti yang tertular virus.

Siapa yang Berisiko Mengalami Coronaphobia?

Berdasarkan sebuah penelitian, ternyata wanita lebih banyak mengalami kecemasan dibandingkan pria. Hal ini berdasarkan fakta bahwa wanita memiliki kecemasan yang lebih besar, misalnya ketika menghadapi anggota keluarga yang sakit. Wanita juga cenderung memiliki anggapan sepihak bahwa dirinya bertanggung jawab menyebarkan virus terhadap anggota keluarganya.

Selain wanita, kelompok usia muda juga berpotensi terkena fobia akibat efek pandemi yang tidak pasti terhadap masa depan. Kebanyakan dari mereka menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial yang tentu saja dapat meningkatkan kecemasan tentang pandemi.

Apa Bedanya dengan Kecemasan Biasa?

Perbedaan antara coronaphobia dan kecemasan biasa dapat dilihat dari perilaku seseorang pada masa pandemi, demikian yang diungkap oleh Lily Brown PhD, Direktur Centre for Treatment and Study of Anxiety di Universitas Pennsylvania.

Perilaku yang dinilai mencakup kepuasan menjalani kehidupan di masa pandemi, interaksi dengan orang-orang sekitar, kecukupan untuk memenuhi kebutuhan pangan selama pandemi, dan kemampuan menyelesaikan semua tugas yang diberikan apabila masih bekerja.

Jika terdapat ketidakpuasan dan kesulitan dalam beraktivitas atau menyelesaikan pekerjaan karena panik berlebihan atau takut dirinya dan anggota keluarganya tertular virus, maka ini merupakan tanda kecemasan yang dapat mengarah pada fobia.

Bagaimana Cara Mengatasinya?

Salah satu cara untuk mengatasi fobia adalah dengan terapi perilaku kognitif yang terbukti efektif dan efisien membantu mengatasi kecemasan. CDC menganjurkan untuk menjaga kesehatan fisik, menyisihkan waktu untuk istirahat, relaksasi pikiran dan tubuh dengan bersantai dalam menghadapi setiap permasalahan, serta banyak berinteraksi dengan orang-orang atau komunitas sekitar.

Selain itu, apabila Sahabat mengalami gejala coronaphobia, sebaiknya Sahabat berkonsultasi dengan profesional kesehatan. Sahabat bisa memanfaatkan teknologi telemedicine agar dapat berkonsultasi secara virtual.

Baca Juga: Gangguan Kesehatan Jiwa, dari Penyebab hingga Cara Mengatasi

Itulah beberapa hal mengenai coronaphobia yang merupakan reaksi kecemasan tidak wajar akibat rasa ketakutan berlebihan akan virus Corona. Jangan sampai Sahabat mengalami masalah ini karena akan berdampak pada kehidupan sosial. Apabila Sahabat mengalami gejala coronaphobia, jangan sampai dibiarkan berlarut-larut.

Sahabat bisa memanfaatkan layanan telemedicine dari Prosehat untuk konsultasi mengenai fobia Corona ini. Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

Referensi:

  1. Coronaphobia Is a New Disorder Emerging From the COVID-19 Pandemic—Here’s What You Need to Know [Internet]. Health.com. 2021 [cited 26 February 2021]. Available from: https://www.health.com/condition/infectious-diseases/coronavirus/coronaphobia-covid-anxiety-disorder
  2. Prasasti G. Coronaphobia: Masalah Kecemasan Berlebihan yang Mengintai Akibat Pandemi COVID-19 [Internet]. liputan6.com. 2021 [cited 26 February 2021]. Available from: https://www.liputan6.com/health/read/4491460/coronaphobia-masalah-kecemasan-berlebihan-yang-mengintai-akibat-pandemi-covid-19
  3. Yuk Kenali Coronaphobia, Gejala dan Cara Mengatasinya [Internet]. lifestyle.okezone.com. 2021 [cited 26 February 2021]. Available from: https://lifestyle.okezone.com/read/2021/02/24/481/2367555/yuk-kenali-coronaphobia-gejala-dan-cara-mengatasinya

Chat Asisten ProSehat aja