Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800

Anestesi pada Operasi Sesar

“Melahirkannya normal atau sesar (caesar)?”

Pertanyaan ini sepertinya menjadi salah satu pertanyaan wajib yang kerap dilontarkan saat teman atau kerabat kita baru saja dikaruniai buah hati. Menurut data riskesdas pada tahun 2010, tingkat persalinan secara sesar di Indonesia mencapai 15,3% dari seluruh persalinan yang ada. Operasi sectio caesarea ini sering dilakukan apabila terdapat halangan pada persalinan normal, dan juga dapat dilakukan apabila pasien dan keluarga yang meminta.

Tentunya pada setiap proses operasi sesar akan melibatkan tindakan anestesi atau pembiusan, tindakan anestesi regional, baik spinal maupun epidural lebih direkomendasikan daripada anestesi umum. Hal ini didasari adanya perubahan fisik pada ibu hamil, dimana obat-obatan yang digunakan pada anestesi umum dapat berisiko mengganggu pernapasan janin setelah lahir. Selain itu, terdapat pula perubahan pada pengosongan lambung ibu yang menjadi lebih lambat, sehingga berisiko menyebabkan masuknya cairan lambung ke paru-paru yang dapat menyebabkan infeksi.

Anestesi regional adalah pembiusan untuk menghilangkan sensasi dari sebagian area di tubuh, misal menghilangkan sensasi dari pusar ke bawah, atau menghilangkan sensasi dari lengan atas sampai tangan yang berkaitan. Anestesi regional ini dapat dibagi menjadi 2 yaitu blok sentral dan blok perifer. Blok sentral ialah pengeblokan pada saraf pusat yaitu saraf tulang belakang, proses ini dapat meliputi blok spinal dan epidural. Blok Perifer merupakan tindakan pengeblokan saraf tepi, misalnya pada pengeblokan saraf brakialis untuk menghilangkan sensasi dari lengan atas sampai tangan pada salah satu sisi yang berkaitan. Anestesi regional yang umum digunakan pada proses sesar adalah spinal.

Setiap tindakan pembiusan dan pembedahan pasti diperlukan persiapan agar operasi berjalan lancar dan aman. Pada 8 jam sebelum tindakan pembiusan, pasien akan dipuasakan terlebih dahulu, hal ini bertujuan untuk mengosongkan lambung yang mencegah masuknya cairan lambung ke paru-paru, terutama apabila pasien membutuhkan anestesi umum karena anestesi regional gagal dilakukan. Tim anestesi akan melakukan pemeriksaan dan evaluasi.

Pasien sebaiknya mengutarakan riwayat penyakit yang dideritanya, riwayat alergi, dan riwayat kebiasaan apabila ada konsumsi zat-zat seperti rokok, alkohol, dan obat-obatan lainnya untuk mencegah terjadinya reaksi obat yang tidak diinginkan saat pembiusan. Selama persiapan, pasien boleh berbaring dengan posisi miring ke kiri, hal ini bertujuan agar melancarkan aliran darah balik ke jantung, serta membantu mengurangi risiko tekanan darah turun setelah proses pembiusan.

Sebelum tindakan operasi sesar dimulai, pasien akan dipindahkan ke ruang operasi. Sesaat sebelum pembiusan dimulai, pasien akan diberi obat untuk mengurangi asam lambung dan anti mual. Lalu, setelah itu akan dilakukan pembiusan. Pada anestesi spinal, pasien akan diminta duduk atau tidur miring. Kemudian dokter anestesi akan meminta pasien untuk menundukkan kepalanya agar dokter dapat lebih mudah melakukan perabaan tulang belakang. Setelah itu dokter akan membersihkan area tulang belakang yang akan disuntik dengan antiseptik, lalu dokter akan menusukkan jarum suntik khusus.

Kemudian memasukkan obat anestesi ke cairan serebrospinal  (cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang), kemudian pasien diminta untuk tidur telentang. Setelah itu, pasien akan merasakan kesemutan pada daerah pinggang ke bawah, kaki akan terasa berat dan tidak bisa digerakkan, juga daerah yang dibius tidak akan merasakan nyeri lagi. Setelah proses tindakan pembiusan selesai, dokter kebidanan akan melakukan tindakan operasi, selama tindakan operasi pasien akan dipantau dengan ketat oleh tim medis. Apabila pasien merasa sesak, atau mual, atau ada keluhan lainnya, harus segera dilaporkan ke tim medis.

Selama proses operasi, pasien akan merasakan kalau ada yang ditarik, atau perut terasa digoyang-goyangkan namun tidak terasa nyeri. Selama operasi, pasien akan tetap sadar, karena setelah bayi lahir, bayi yang sudah dibersihkan akan diberikan kepada ibunya dan tentunya ini adalah momen kebahagiaan para ibu.

Setelah operasi selesai, umumnya pasien masih belum dapat merasakan sensasi pada area yang dibius, setelah satu setengah jam dari waktu pembiusan, pasien akan mulai merasakan sensasi kembali secara perlahan, kaki pun perlahan-lahan mulai bisa digerakkan. Saat obat anestesi berangsur-angsur habis, dokter akan memberikan obat anti nyeri untuk mengurangi nyeri pasca operasi. Apabila pasien masih merasakan nyeri, jangan ragu untuk mengutarakannya kepada tim medis karena dokter anestesi akan memberikan obat anti nyeri tambahan.

Terdapat beberapa hal penting yang harus dipatuhi pasien setelah prosedur pembiusan pada operasi caesar. Pertama, jangan mengangkat kepala selama 8-12 jam setelah pembiusan, karena hal ini dapat menimbulkan nyeri kepala yang hebat dan sangat mengganggu, tetapi untuk gerakan seperti miring ke kiri maupun kanan masih diperbolehkan asalkan tidak mengangkat kepala.

Efek Samping Bius (Anestesi)

Setiap tindakan pembiusan memiliki risiko dan efek samping. Pada anestesi spinal, efek samping yang sering terjadi adalah mual, karena pembiusan spinal memiliki risiko penurunan tekanan darah yang cukup besar. Oleh karena itu, tim anestesi baik dokter dan perawat anestesi akan melakukan pemantauan ketat selama proses pembiusan dan pembedahan untuk mencegah terjadinya efek samping yang tidak diinginkan.

Selain mual, efek samping yang dapat terjadi adalah nyeri kepala, tetapi dapat diatasi dengan tidak mengangkat kepala, kencing juga menjadi terganggu karena proses spinal, namun jangan khawatir karena pasien akan dipasang kateter urin. Efek samping yang jarang terjadi seperti reaksi alergi, kejang, dan kerusakan pada saraf.

instal aplikasi prosehat

Referensi:

  1. Ronald D. Miller., Manuel C. Pardo. Basics of Anesthesia. 7th ed. Elsevier; 2018.
  2. Latief S, Suryadi K, Dachlan M. Petunjuk Praktis Anestesiologi. 2nd ed. Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2018.
  3. Suryati T. (ANALISIS LANJUT DATA RISKESDAS 2010) PERSENTASE OPERASI CAESARIA DI INDONESIA MELEBIHI STANDARD MAKSIMAL, APAKAH SESUAI INDIKASI MEDIS? [Internet]. Ejournal.litbang.depkes.go.id. 2012 [cited 8 December 2018]. Available from: ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/hsr/article/view/3031
  4. Gymrek R. Local and Regional Anesthesia: Overview, Indications, Contraindications [Internet]. Emedicine.medscape.com. 2015 [cited 8 December 2018]. Available from: emedicine.medscape.com/article/1831870-overview

 

WhatsApp Asisten Maya saja