Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800

Amankah Suntik Vaksin MR pada Bumil?

Apakah aman suntik vaksin MR pada saat hamil? Hal ini mungkin pernah terlintas dalam pikiran kita ya Moms. Sebelum mengetahui aman atau tidaknya suntik MR, ada baiknya kita mengetahui apa yang dimaksud suntik MR, seberapa pentingnya suntik MR serta apa sajakah efek samping penyuntikan vaksin MR terutama bagi ibu hamil.

Namun, sudahkah Anda ketahui, apa yang dimaksud dengan vaksinasi? Nah Moms, vaksinasi sebenarnya merupakan suatu cara memasukkan virus mati atau virus yang telah dilemahkan ke dalam tubuh manusia, tujuannya agar sistem pertahanan tubuh mampu mengenali virus, sehingga sistem kekebalan tubuh dapat mengatasinya secara otomatis apabila suatu saat kita terinfeksi virus tersebut.

Vaksinasi MR merupakan kombinasi dari vaksin Campak atau Measles (M) serta vaksin Campak Jerman atau Rubella (R), fungsi dari pemberian vaksinasi ini bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi yang disebabkan oleh virus Campak dan Rubella. Campak merupakan salah satu penyakit menular yang dapat menginfeksi anak, terutama pada seseorang yang tidak terlindungi vaksinasi sebelumnya, seseorang dengan gizi kurang serta sistem imun rendah (HIV, kanker, pasien dengan gangguan sistem imun). Gejala yang dapat terjadi bila seseorang terkena campak adalah demam, ruam kemerahan di seluruh tubuh, serta gejala seperti flu (batuk, pilek serta mata berair), campak juga dapat menyebabkan komplikasi yang lebih serius lagi seperti pneumonia (infeksi paru), kerusakan otak, infeksi telinga sampai kematian. Sedangkan rubella, sering sekali terjadi pada anak, remaja maupun ibu hamil yang dapat berakibat pada keguguran, bayi lahir cacat seperti tuli maupun kebutaan  atau sampai terjadi bayi lahir mati.

Vaksinasi MR (Measless Rubella) merupakan program pemerintah yang mulai digalakkan kembali, mengingat dampak yang timbulkan dari infeksi Campak dan Rubella yang cukup serius. Berdasarkan data Kementrian Kesehatan RI tahun 2016, terdapat sekitar 8.185 kasus Rubella atau Campak Jerman pada tahun 2015. Bila dihitung dari tahun 2010 sampai 2015, terdapat 23.164 kasus Campak dan 30.463 kasus Rubella di Indonesia, dengan kasus campak tertinggi terjadi di Sulawesi Tengah (15,65%). Program vaksinasi MR yang diberikan pemerintah ditargetkan khususnya untuk anak usia 9 bulan sampai 15 tahun. Dengan jadwal penyuntikan 9 bulan, 18 bulan serta usia 6 tahun (kelas 1 SD atau sederajat).

Lalu, Apakah aman suntikan vaksin diberikan untuk wanita yang sedang berbadan dua? Jawabannya adalah TIDAK! Vaksinasi diberikan pada saat Ibu belum positif hamil. Pemberian vaksinasi MR saat kehamilan dikhawatirkan dapat membahayakan Ibu dan bayi di dalam kandungan. Apabila Moms ingin melakukan vaksin MR sebelum kehamilan, maka kehamilan harus ditunda selama 4 minggu atau 30 hari setelah penyuntikan vaksin MR dilakukan.

Mengingat adanya mitos-mitos yang beredar mengenai efek samping dari penyuntikan vaksin MR, mungkin banyak yang masih ragu mengenai apakah aman suntikan vaksin MR bila tetap diberikan. Jangan khawatir, Kementrian Kesehatan RI serta WHO atau Badan Kesehatan Dunia telah menyatakan bahwa vaksinasi ini sangat aman diberikan, bahkan vaksin MR telah diberikan pada lebih dari 141 negara di dunia serta izin beredarnya sudah disahkan oleh BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan), sehingga kita tidak perlu ragu lagi untuk menjalankan program pemerintah dalam mencegah penyebaran virus Campak dan Rubella.

Mengenai mitos efek samping yang mungkin ditimbulkan setelah vaksinasi MR yaitu berupa autisme ataupun kelumpuhan, para pakar dalam Badan Kesehatan Dunia telah menyanggah mitos tersebut Moms. Jadi, tidaklah benar vaksinasi MR dapat menyebabkan autisme dan kelumpuhan. Beberapa jurnal kedokteran serta penelitian para ahli belum ada yang dapat membuktikan bahwa vaksin MR dapat menyebabkan kelumpuhan serta autisme. Apabila terjadi kelumpuhan setelah vaksinasi maka dianggap hal ini merupakan suatu kebetulan saja, dan diperlukan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang seperti laboratorium yang harus dilakukan untuk mencari penyebab sebenarnya.

Reaksi yang lazim dapat ditimbulkan setelah penyuntikan vaksin MR umumnya ringan dan bukan merupakan reaksi yang berarti seperti ruam kulit atau kemerahan di tempat penyuntikan, nyeri pada tempat penyuntikan, serta demam ringan. Biasanya reaksi ini tidak berlangsung lama, hanya sekitar 24 jam sampai 3 hari. Reaksi paska vaksinasi yang berat karena alergi pada bahan yang terkandung dalam vaksin, hampir tidak pernah ditemukan, karena vaksin mengandung virus atau kuman yang dilemahkan. Namun, apabila anak atau seseorang memiliki riwayat alergi komponen vaksin, baiknya konsultasikan terlebih dahulu ke dokter untuk menghindari risiko alergi.

Pemberian suntik vaksinasi MR tidak dapat dilakukan kepada setiap orang. Ada beberapa kondisi yang tidak disarankan menerima suntik vaksinasi MR seperti:

  • Bayi baru lahir.
  • Ibu yang sedang hamil (wanita yang masih dalam perencanaan hamil sangat disarankan).
  • Anak ataupun orang dewasa yang sedang menjalani pengobatan atau sedang mengonsumsi obat penurun sistem imun (Imunosupresan) misalnya pengobatan dengan kortikoseroid.
  • Seseorang yang mengalami lemahnya sistem imun (pada penyakit kanker, HIV).
  • Seseorang dengan kelainan darah seperti anemia, leukimia, trombositopenia atau kelainan darah lainnya.
  • Kelainan fungsi ginjal (sedang menjalani cuci darah).
  • Kelainan fungsi hati.
  • Riwayat adanya hipersensitif terhadap bahan vaksin maupun bahan obat tertentu (sebaiknya lakukan konsultasi terlebih dahulu ke dokter sebelum melakukan vaksinasi).
  • Vaksinasi harus ditunda apabila seseorang yang berencana akan disuntik mengalami gejala demam, batuk, pilek, diare, atau dalam kondisi yang tidak sehat.

Setelah mengetahui banyaknya manfaat yang dapat dirasakan setelah melakukan vaksinasi MR, serta mengetahui bahwa mitos reaksi paska vaksinsasi dari penyuntikan vaksin MR berupa autisme serta kelumpuhan tidaklah benar, diharapkan kita tidak takut lagi untuk turut serta melaksanakan program pemerintah untuk vaksinasi MR.

Selain itu, jangan lupa mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat untuk mendapatkan segala informasi yang berkaitan dengan kesehatan. Bahkan Moms bisa melakukan vaksin MR dengan layanan dokter ke rumah loh! Penasaran? Info lebih lanjut bisa menghubungi Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800 sekarang juga!

instal aplikasi prosehat

Daftar Pustaka

  1. Subuh H, Soepardi J, Yosephine P. Petunjuk Tehnis Kampanye Imunisasi Measles Rubella (MR) [Internet]. 1st ed. Jakarta: Direktorat Jendral Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit Kementrian Kesehatan; 2017 [cited 24 August 2018]. Available from: ibi.or.id/media/files/Kampanye%20dan%20Intro%20MR%20Final.pdf
  2. Measles Rubella Immunization Campaign in Java Island on Aug –Sep 2017 [Internet]. South-East Asia Regional Office. 2018 [cited 24 August 2018]. Available from: searo.who.int/indonesia/topics/immunization/MR_CAMPAIGN/en/
  3. Swamy G, Heine R. Vaccinations for Pregnant Women. Obstetrics & Gynecology [Internet]. 2015 [cited 24 August 2018];125(1):212-226. Available from: ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4286306/
  4. MMR (measles, mumps, rubella) vaccine: advice for pregnant women [Internet]. GOV.UK. 2018 [cited 24 August 2018]. Available from: gov.uk/government/publications/vaccine-in-pregnancy-advice-for-pregnant-women/mmr-measles-mumps-rubella-vaccine-advice-for-pregnant-women
  5. Nelson W, Kliegman R. Nelson Textbook of pediatrics. 18th ed. Philadelphia: Elsevier; 2016.
  6. Safety of Immunization during Pregnancy A review of the evidence [Internet]. Who.int. 2018 [cited 24 August 2018]. Available from: who.int/vaccine_safety/publications/safety_pregnancy_nov2014.pdf

 

WhatsApp Asisten Maya saja