Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800

9 Trik Mengusir Perut Kembung

Sobat pernah mengalami perut tidak nyaman alias terasa kembung? Perut kembung atau yang disebut abdominal bloating merupakan keadaan gangguan pencernaan yang ditandai dengan perasaan tidak nyaman di perut, perut terasa penuh dan bergas. Keadaan ini dapat dirasakan pada semua umur, tua atau muda, pria maupun wanita. Kondisi tersebut dapat ringan sampai berat, dan dapat mengganggu aktivitas fisik penderitanya.

Gangguan perut kembung biasanya disertai dengan gejala lainnya seperti perut yang terasa keras, atau begah (distensi), nyeri atau kram perut dan perasaan tidak nyaman pada perut, perut terasa lebih besar, sering sendawa (mengeluarkan gas dari mulut), sering kentut (flatus), perubahan kebiasaan buang air besar (dapat berupa sering buang air besar, sulit buang air besar, perubahan konsistensi buang air besar seperti diare atau buang air besar sedikit-sedikit namun sering), mual dan muntah.

Penyebab dari perut kembung ini dapat disebabkan oleh berbagai penyebab seperti:

Faktor Penyebab Perut Kembung Gangguan mikroba atau bakteri di usus, sehingga menimbulkan penumpukan gas berlebih di usus, gangguan intestinal transit atau gangguan gerak usus dan gangguan pengosongan lambung. Sebenarnya, adanya gas dalam saluran pencernaan merupakan hal yang wajar dan kondisi yang normal, tapi bila jumlah gas hanya 100-200cc. Peningkatan jumlah gas dalam keadaan setelah makan, aktivitas bakteri usus, produk makanan tertentu yang menimbulkan gas ketika dicerna seperti kol, makanan yang mengandung serat tinggi, tape, durian, makanan lain yang mengandung alkohol, kacang-kacangan, bawang merah, bawang putih, kentang, susu serta produk susu lainnya seperti keju dan mayonese.

  1. Intoleransi laktosa (pada pasien yang tidak dapat mencerna makanan yang mengandung laktosa). Banyak orang yang memiliki kondisi dimana enzim laktase (enzim yang mencerna laktosa) dalam kadar rendah, setelah masa kanak-kanak jumlah enzim laktase ini semakin berkurang seiring bertambahnya usia sehingga akibatnya dari waktu ke waktu mengalami peningkatan jumlah gas setelah mengonsumsi makanan yang mengandung laktosa. Makanan yang termasuk mengandung laktosa seperti susu, keju, es krim, roti, sereal dan mayones.
  2. Mengonsumsi minuman yang bersoda sehingga meningkatkan gas pada saluran cerna.
  3. Gangguan usus kronis atau IBS (Irritable Bowel Sydrome) yaitu gangguan fungsi usus dan saluran pencernaan dapat disebabkan karena kondisi psikologi ataupun kondisi peradangan pada saluran pencernaan. Gangguan kembung dirasakan oleh 90% pasien dengan penyakit IBS.
  4. Gangguan psikologi misalnya gangguan cemas, depresi atau dalam kondisi panik.
  5. Gangguan kebiasaan buang air besar atau sembelit, bila seseorang mengalami sulit buang air besar, maka perut akan terasa penuh.
  6. Hormonal, misalnya saat seorang wanita mengalami pre menstrual syndrome (PMS), maka perut akan terasa kembung, penuh, tidak nyaman, nyeri dan sering bersendawa.
  7. Kebiasaan merokok, dengan merokok maka sedikit banyak asap juga akan masuk ke dalam saluran pencernaan, sehingga dapat menimbulkan penumpukan gas di dalam saluran pencernaan.
  8. Makan terlalu cepat, seperti yang dibahas sebelumnya, setelah makan maka gas dalam saluran cerna dapat meningkat, apalagi jika terlalu terburu-buru maka akan memperberat kerja lambung sehingga akan timbul perasaan tidak nyaman pada lambung, seperti perasaan nyeri dan penuh di lambung.
  9. Gangguan pankreas, gangguan ini disebabkan menurunnya enzim pencernaan yang diproduksi oleh pankreas sehingga menyebabkan sindrom malabsorbsi (atau gangguan penyerapan makanan).

Selain dari penyebab di atas, ternyata perut kembung dapat merupakan suatu gejala dari penyakit yang lebih serius, bisa merupakan suatu penyakit gawat darurat yang perlu dilakukan penanganan segera, misalnya:

  1. Kanker ovarium
  2. Penyakit Crohn’s atau kolitis ulserativa
  3. Penyakit celiac
  4. Cairan yang menumpuk pada rongga perut atau asites yang disebabkan oleh penyakit kanker, hati (sirosis), gagal jantung kongestif. Akibat penumpukan cairan ini, perut menjadi begah atau distensi.

Agar Sobat mengetahui penyebab perut kembung dengan pasti, perlu konsultasi ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang untuk mengetahui penyebab dari perut kembung tersebut. Pengobatannya dapat berbeda-beda tergantung dari penyebabnya.

Pemeriksaan awal yang dapat dilakukan dokter seperti pemeriksaan fisik dan meninjau pola makan serta kebiasaan pasien, tes primer yang bertujuan mengukur tingkat hidrogen dari tes nafas (pada pasien intoleransi laktosa), dan jumlah gas hidrogen akan meningkat akibat aktivitas bakteri yang menghasilkan gas berlebih). Pemeriksaan penunjang lain seperti foto x-ray dengan zat pewarna kontras untuk melihat struktur anatomi dari saluran cerna serta melihat adanya air trapping (gas yang terjebak di saluran cerna) akibat penyakit lainnya.

Apabila melalui tes ini belum ditemukan diagnosis maka dapat dilakukan pemeriksaan lanjutan seperti pemeriksaan untuk melihat usus besar (kolonoskopi) atau USG perut untuk menilai apakah benar kembung atau terdapat asites (cairan pada rongga perut) pada pasien.

Kemudian, ada beberapa trik menghindari terjadinya perut kembung dan mengurangi gejala perut kembung:

  1. Luangkan waktu untuk mengunyah makanan lebih lama. Hal ini untuk menghindari tertelannya gas lebih banyak serta mengurangi beban kerja lambung sehingga dapat mengurangi gas berlebihan pada saluran cerna.
  2. Menghindari makanan yang mengandung gas. Makanan yang terbukti mengurangi gas dalam saluran cerna seperti minuman probiotik, yoghurt, jahe, madu, pepermint, kayu manis.

Berikut ini makanan yang baik untuk mencegah perut kembung:

Makanan Pencegah Perut Kembung

  1. Apabila dokter telah mendiagnosis intoleransi laktosa (atau gangguan mencerna makanan yang mengandung laktosa) maka sebaiknya pasien mengonsumsi laktase untuk memudahkan pencernaan laktosa.
  2. Menghindari kebiasaan yang menyebabkan aerophagia (tertelannya udara ke saluran pencernaan) misalnya merokok, mengunyah permen karet, minum minuman bersoda, minum dengan sedotan atau minum terlalu cepat.
  3. Kurangi makanan yang mengandung serat. Makanan yang mengandung serat sangat baik bagi kesehatan pencernaan namun konsumsi serat yang berlebih tidaklah baik karena dapat meningkatkan pembusukan oleh bakteri usus sehingga produksi gas dalam saluran cerna pun meningkat.
  4. Apabila kembung disebabkan oleh gangguan psikologis, maka diperlukan konseling untuk mengurangi gejala saluran pencernaan.
  5. Minum air putih dalam jumlah yang cukup. Minum air putih dapat membantu melancarkan saluran pencernaan sehingga mencegah terjadinya konstipasi.
  6. Rajin berolahraga, dengan berolahraga dapat membantu menjaga aktivitas fisik dan mental, olahraga dapat meningkatkan detak jantung, dan meningkatkan pergerakan usus dalam saluran cerna, sehingga dapat mencegah terjadinya konstipasi dan mencegah penumpukan gas.
  7. Obat-obatan sesuai dengan resep dokter, misalnya obat-obatan yang mengandung simetikon yang berfungsi untuk mengeluarkan gas dalam saluran pencernaan, atau jenis lainnya sesuai dengan diagnosis dokter.

Nah, Sobat itulah 9 langkah yang bisa Anda tempuh untuk mengatasi perut kembung. Bila Sobat memerlukan produk kesehatan atau informasi kesehatan lain, segera akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat. Silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS/WhatsApp: 0811-18-16-800 sekarang juga. Salam sehat.

instal aplikasi prosehat

Daftar Pustaka

  1. Lacy, B., Gabbart, S. and Crowell, M. (2018). Pathophysiology, Evaluation, and Treatment of  Bloating Hope, Hype, or Hot Air?. NCBI Gastro and Hepatology, [online] 7(11): 729–739(PMC3264926 PMID: 22298969). Available at: ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3264926/ [Accessed 21 Sep. 2018].
  2. Mayoclinic.org. (2018). Gas and gas pains – Diagnosis and treatment – Mayo Clinic. [online] Available at: mayoclinic.org/diseases-conditions/gas-and-gas-pains/diagnosis-treatment/drc-20372714 [Accessed 20 Sep. 2018].
  3. Seo, A., Kim, N. and Oh, D. (2013). Abdominal Bloating: Pathophysiology and Treatment. Journal of Neurogastroenterology and Motility, [online] 19(4), pp.433-453. Available at: jnmjournal.org/journal/view.html?uid=327&vmd=Full [Accessed 20 Sep. 2018].
  4. Sullivan, S. (2012). Functional Abdominal Bloating with Distention. ISRN Gastroenterology, [online] 2012(10.5402/2012/721820), pp.1-5. Available at: ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3388350/ [Accessed 20 Sep. 2018].

 

WhatsApp Asisten Maya saja