Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800

5 Jenis Perilaku Seksual Berisiko Tertinggi Bisa Tertular HIV

HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Virus ini melemahkan sistem imun manusia dengan cara menghancurkan sel–sel darah putih yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari penyakit. Tahap akhir dari infeksi HIV yang berlangsung lama disebut dengan AIDS(acquired immunodeficiency syndrome).

Dibandingkan manusia dengan sistem imun normal, penderita HIV/AIDS jauh lebih mudah terkena infeksi. Keadaan inilah yang menyebabkan HIV/AIDS sangat ditakuti, karena tubuh sama sekali tidak memiliki pertahanan terhadap bakteri/virus/jamur/parasitlain dan akanberujung pada kematian. Sampai saat ini belum ada pengobatan untuk HIV/AIDS, tetapi dengan penanganan yang tepat, penyakit ini dapat terkontrol. Yuk, kita cermati lebih lanjut bagaimana cara penularan HIV, apa saja perilaku yang rentan tertular HIV, serta pencegahannya.

Bagaimana Cara Penularan HIV?

HIV dapat menular kepada setiap orang, tanpa memandang orientasi seksual, ras, jenis kelamin, maupun usia. Penularan tersebut diteruskan melalui cairan tubuh penderita, tapi tidak semua cairan tubuh mengandung HIV, melainkan hanya darah, semen, cairan rektum, cairan vagina, dan air susu ibu (ASI). Jika cairan tubuh tersebut mengenai kulit yang sedang luka, lapisan lendir, atau langsung disuntikkan ke dalam pembuluh darah, maka HIV akan masuk ke dalam tubuh kita.

Mitos yang Salah Mengenai Cara Penularan HIV

Faktor Risiko Tertular HIV?

Berkaitan dengan cara penularan HIV, berikut ini adalah beberapa faktorrisiko yang membuat seseorang rentan tertular HIV:

  1. Hubungan seksual berisiko

HIV tergolong ke dalam penyakit infeksi menular seksual (IMS) dan penularan paling banyak terjadi melalui hubungan seksual. Di negara berkembang termasuk Indonesia, penularan heteroseksual (berhubungan seksual dengan lawan jenis) merupakan cara penularan terbanyak, diikuti penularan homoseksual.

Risiko penularan semakin tinggi dengan perilaku seksual yang tidak aman, seperti memiliki banyak pasangan seksual, berhubungan dengan pasangan yang terinfeksi HIV, tidak menggunakan proteksi kondom. Selain itu, pasangan homoseksual memiliki risiko lebih tinggi terutama bagi individu yang menerima penis (bottom partner) dimana risiko terinfeksi HIV meningkat 13 kali lipat.

  1. Penggunaan jarum suntik bersamaan

Menggunakan jarum suntik bersamaan dapat meningkatan risiko seseorang tertular HIV. Hal inikarena saat berbagi jarum suntik, HIV yang berada di darah ikut berpindah antar individu.HIV dapat hidup pada jarum suntik yang sudah digunakan, selama kurang lebih 42 hari. Perilaku ini seringkali dilakukan oleh para pengguna narkoba suntik.

  1. Menerima darah dari penderita HIV

Diperkirakan >90% individu yang menerima darah dari penderita HIV ikut terinfeksi. Tidak hanya dari menerima transfusi darah yang umumnya terdiri dari sel darah merah saja, menerima produk darah apapun (sel darah putih, trombosit, dan plasma) dapat menularkan HIV. Selain itu, penerima donor organ dari penderita HIV juga berisiko tertular virus ini.

  1. Bekerja sebagai tenaga medis

Tenaga medis dan laboran yang terpapar cairan tubuh penderita HIV memiliki risiko sangat tinggi untuk tertular, terutama jika pekerjaannya melibatkan penggunaan benda tajam. Umumnya penularan pada tenaga medis terjadi akibat tertusuk benda tajam atau terpapar cairan tubuh penderita HIV pada kulit yang sedang luka.

  1. Lahir dan menerima ASI dari ibu yang terinfeksi HIV

Ibu yang terinfeksi HIV berisiko menularkan kepada janinnya selama masa kehamilan (via plasenta), kelahiran, dan saat menyusui. Saat ini, semua ibu hamil direkomendasikan untuk melakukan pemeriksaan HIV. Jika hasilnya positif, ibu hamil harus segera mengonsumsi antiretroviral therapy (ARV) dan akan disarankan untuk melahirkan secara section caesarean untuk mengurangi risiko penularan selama proses kelahiran. Bayi yang lahir dari ibu dengan HIV positif juga akan mendapat ARV selama 4–6 minggu.

Cara Penularan HIV

Bagaimana Cara Mencegah Tertular HIV?

Mengingat belum tersedianya vaksin untuk HIV sampai saat ini, cara terbaik untuk mencegah penularan HIV adalah dengan menghindari perilaku yang berisiko tinggi tertular HIV. Namun, seringkali perubahan perilaku tersebut sulit diterapkan pada beberapa individu karena tuntutan pekerjaan, maka selain mencegah melakukan perilaku tersebut, pemeriksaan rutin HIV sangat penting untuk dilakukan. Hasil survey mengatakan sekitar 16–18% dari > 1,1 juta penduduk di Amerika Serikat yang terinfeksi HIV tidak menyadari keadaan mereka. Oleh karena itu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan pemeriksaan HIV menjadi pemeriksaan rutin medis dan semua orang berusia 13–64 tahun sebaiknya menjalani pemeriksaan HIV minimal satu kali. Bagi individu yang memiliki perilaku yang rentan tertular HIV, harus diperiksa lebih sering.  Deteksi dini infeksi HIV dan pengobatan yang tepat dengan antiretroviral therapy (ARV) cukup efektif dalam memperlambat replikasi virus di dalam tubuh kita untuk mencapai ke tahap AIDS.

Satu hal lagi yang penting untuk diketahui, jika Anda merasa dalam 3 hari terakhir telah mengalami kontak langsung dengan cairan tubuh penderita HIV, segera kunjungi institusi kesehatan untuk meminta post-exposure prophylaxis (PEP) yang merupakan obat pencegahan terinfeksi HIV. PEP ini hanya bermanfaat jika diberikan dalam 72 jam pertama setelah paparan, jadi janganlah menunda untuk segera melapor ke tenaga kesehatan.

Nah, bagi Bagi Anda yang masih membutuhkan ulasan maupun produk kesehatan, silakan akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat. Info lebih lanjut bisa menghubungi Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800 sekarang juga!

instal aplikasi prosehat

Referensi:

  1. Anal Sex | HIV Risk and Prevention | HIV/AIDS | CDC [Internet]. Cdc.gov. 2018 [cited 20 November 2018]. Available from: cdc.gov/hiv/risk/analsex.html
  2. Injection Drug Use | HIV Risk and Prevention | HIV/AIDS | CDC [Internet]. Cdc.gov. 2018 [cited 20 November 2018]. Available from: cdc.gov/hiv/risk/drugs/index.html
  3. Kasper DL, Fauci AS, Hauser S, et al. Harrison’s principles of internal medicine (19th ed). New York: McGraw Hill Companies, Inc. 2015.
  4. Preventing Mother-to-Child Transmission of HIV Understanding HIV/AIDS [Internet]. AIDSinfo. 2018 [cited 20 November 2018]. Available from: aidsinfo.nih.gov/understanding-hiv-aids/fact-sheets/20/50/preventing-mother-to-child-transmission-of-hiv/
  5. Who Is at Risk for HIV? [Internet]. HIV.gov. 2018 [cited 20 November 2018]. Available from: hiv.gov/hiv-basics/overview/about-hiv-and-aids/who-is-at-risk-for-hiv