Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Beda Muntah dan Gumoh dari Sisi Dampaknya pada Si Kecil

Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
Ditinjau oleh : dr. Monica C

Memahami Beda Muntah dan Gumoh Akan Membantu Orang Tua Lebih Mengerti Kondisi Kesehatan Si Kecil

Bunda, memahami beda muntah dan gumoh sangatlah penting. Karena selain penyebabnya berbeda, dampak pada kesehatan si kecil juga berbeda. Selain itu, penanganannya juga berbeda.

Oleh sebab itu, memahami apakah si kecil sedang muntah dan gumoh akan membantu orang tua menentukan penanganan apa yang tepat untuk dilakukan. Hal ini akan sangat berdampak pada tumbuh kembang si kecil.

Memahami Beda Muntah dan Gumoh pada Bayi

Saat atau setelah menyusu, terkadang bayi akan mengeluarkan kembali air susu yang diminumnya melalui mulut. Biasanya, orang tua cenderung akan kaget dan panik melihat hal tersebut dan mengiranya sebagai muntah. Padahal, bisa saja saat itu si Kecil hanya gumoh loh, bun. Lantas, apa bedanya muntah dengan gumoh? Sahabat Sehat, mari simak penjelasan berikut.

Penyebab Gumoh pada Bayi

Gumoh atau spitting up (gastroesophageal reflux) adalah keadaan saat bayi mengeluarkan sebagian susu yang telah ia minum dari mulutnya. Ini merupakan kondisi normal yang akan dialami oleh sebagian besar bayi yang baru berusia beberapa minggu sampai satu tahun.

Gumoh dapat terjadi karena beberapa hal berikut ini:

Terlalu Banyak Diberikan Susu

Lambung bayi masih terlalu kecil untuk menampung cairan susu yang diminum. Kemungkinan besar bunda memberikan si kecil susu dengan jumlah yang terlalu banyak.

Selain itu, klep lambung bayi belum sempurna dan belum dapat menutup dengan rapat. Jika volume susu yang diberikan terlalu besar maka susu dapat keluar lagi melalui mulut.

Menelan Banyak Udara saat Minum Susu

Jika bayi banyak menelan udara saat menyusu, hal ini akan memicu lambung untuk mengeluarkan cairan susu ketika bersendawa. Bayi juga akan menelan banyak udara saat minum susu terlalu cepat. Bisa juga terjadi ketika ia menangis sambil menyusu.

Oleh sebab itu, aturlah bagimana bayi mengkonsumsi susu. Jangan sampai si kecil minum terlalu cepat. Jangan juga memaksa si kecil meminum susu ketika si kecil masih menangis.

Setidaknya sekitar 25% persen bayi di Indonesia mengalami gumoh lebih dari 4 kali di bulan pertama kelahirannya. Sekitar 50% persen, bayi juga akan gumoh sebanyak 1 – 4 kali hingga menginjak usia 3 bulan. Kondisi ini bukanlah suatu pertanda adanya penyakit dan akan berhenti dengan sendirinya pada usia 1 tahun. Gumoh dapat dikatakan normal apabila:

  • Terjadi setelah menyusu
  • Berlangsung selama kurang dari 3 menit
  • Tidak disertai dengan gejala-gejala lain
  • Bayi dalam keadaan sehat
  • Bayi memiliki nafsu makan yang baik
  • Mengalami penambahan berat badan yang normal
  • Setelah gumoh bayi akan terlihat lebih nyaman dan aktif 
  • Tidak mengalami gangguan pernapasan
  • Meski dapat berbeda-beda, namun umumnya volume susu yang dikeluarkan bayi saat gumoh berkisar 1 – 2 sendok makan atau sekitar 10 ml.

Penyebab Muntah pada Bayi

Muntah terjadi biasanya beberapa jam setelah makan atau minum susu.. Aksi ini terjadi atau dipicu oleh beberapa penyebab. Misalnya:

  • Iritasi dan infeksi pada saraf di perut dan usus
  • Ada zat kimia atau obat tertentu yang masuk ke tubuh
  • Mabuk kendaraan
  • Masalah kesehatan lainnya

Penyebab muntah yang paling umum pada si kecil adalah infeksi perut. Biasanya disebabkan oleh Rotavirus yang kemudian dapat menyebabkan diare. Oleh sebab itu, pemberian imunisasi roatvirus sangat penting untuk si kecil.

Adapun masalah kesehatan serius yang ditandai dengan gejala muntah pada si kecil adalah Hypertrophic pyloric stenosis atau penebalan otot di ujung perut. Biasanya dialami pada bayi yang muntah berkepanjangan di rentang usia 2 minggu dan 4 bulan. Untuk mengatasi persoalan ini, si kecil perlu melakukan operasi untuk membuka area yang menyempit akibat penebalan.

Lihat Artikel Lainnya: Telapak Kaki Sering Terasa Panas

Ciri hypertrophic pyloric stenosis adalah muntah yang hebat dan berlangsung selama 15 sampai 30 menit setiap kali seesai makan. Harap segera hubungi dokter jika menemukan kondisi ini.

Perbedaan Dalam Mengatasi Gumoh dan Muntah

Beda muntah dan gumoh bukan hanya soal faktor penyebabnya. Penanganannya juga berbeda. Pastikan memberikan penanganan yang tepat untuk si kecil.

Berikut ini perbedaan penanganan pada bayi gumoh dengan penanganan pada bayi yang mengalami muntah-muntah:

Cara Mengatasi Gumoh Pada Bayi

Gumoh akan berhenti dengan sendirinya saat berusia diatas 1 tahun. Nah, sembari menunggu si Kecil berusia 1 tahun, ada sejumlah tips perawatan untuk bayi yang baru lahir yang dapat orang tua lakukan untuk mengurangi frekuensi gumoh pada bayi, seperti:

  • Berikan porsi susu yang lebih sedikit namun lebih sering
  • Buat bayi bersendawa setelah meminum susu
  • Hindari memberi makan makanan yang dapat memicu alergi
  • Ganti jenis dot atau botol, jika Si Kecil diberikan susu formula
  • Gendong bayi dalam posisi tengkurap dan menghadap kebelakang

Agar bayi bersendawa setelah meminum susu, ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Cara pertama adalah dengan meletakkan bayi pada posisi tengkurap sambil dipangku.

Posisikan bayi menghadap kebelakang
Sampirkan handuk kecil pada bahu sebagai alas menahan gumoh si Kecil. Lalu gendong bayi dengan posisi kepalanya berada di bahu . Posisikan tubuh bayi dalam keadaan tegak, lalu tepuk-tepuk lembut  punggung bayi sampai ia bersendawa. 

Gendong bayi menghadap ke depan
Caranya, topang tengkuk dan bokong si Kecil di depan tubuh Anda. Lalu beri handuk kecil di dada bayi untuk menahan gumoh. Usahakan agar kepala si Kecil berada lebih tinggi dari dadanya. 

Berikan sela saat sesi menyusu untuk memberi bayi waktu bersendawa.

Cara Mengatasi Muntah Pada Bayi

Saat Si Kecil terus menerus mengalami muntah, hal penting yang harus dilakukan adalah memastikan bayi mendapatkan cairan yang cukup agar tetap terhidrasi dan tidak kekurangan energi. Apabila muntah terlihat tidak terlalu berbahaya dan masih terus terjadi dalam selama kurang dari 24 jam, beberapa langkah awal berikut ini dapat Sahabat Sehat lakukan di rumah:

  • Berikan cairan elektrolit atau larutan oralit secara bertahap untuk mencegah bayi dehidrasi.
  • Jangan paksa bayi untuk minum apapun saat ia terus muntah setiap 5 – 10 menit
  • Berikan minum sebanyak 1-2 sendok teh saja per 10 menit sekali atau setiap kali ia muntah
  • Saat bayi sudah bisa menerima cairan elektrolit, bayi bisa diberikan ASI atau susu formula sedikit demi sedikit
  • Hindari memberikan jus buah sementara

Jika masalah muntah tidak kunjung berhenti, segera bawa ke dokter untuk mendapatkan penanganan. Konsultasikan segera kesehatan si kecil. Jangan biarkan dia terus menerus memuntahkan makanan karena dapat berpengaruh pada tumbuh kembangnya.

Kesimpulan

Beda muntoh dan gumoh dapat diketahui dengan melihat ciri-cirinya. Saat muntah, bayi akan terlihat lebih berusaha saat akan mengeluarkan susu. Muntah biasanya terjadi karena adanya kontraksi pada otot usus dan dinding perut yang berusaha mengeluarkan isi perut atau susu maupun kandungan lainnya yang terdapat di dalam lambung menuju mulut. Muntah ditandai dengan beberapa hal berikut :

  • Volume cairan yang keluar lebih dari 10 ml
  • Mulut bayi menyemburkan cairan dari dalam perut dan ditandai dengan terjadinya kontraksi pada otot dinding perut
  • Cairan terkadang juga keluar melalui hidung
  • Gumoh masih tergolong normal jika intensitas tidak sering

Muntah umumnya baru akan terjadi saat bayi menginjak usia 2 bulan. Kondisi ini juga bisa menjadi pertanda adanya masalah pada sistem pencernaan bayi atau adanya gangguan kesehatan lainnya. Oleh sebab itu, Sahabat Sehat perlu mengetahui penanganan muntah yang tentunya sangat berbeda dengan gumoh. Waspadai tanda-tanda berikut ketika bayi muntah, yaitu :

  • Cairan muntah berwarna kehijauan
  • Bayi terus menerus rewel dan terlihat kesakitan
  • Demam hingga 39 derajat celcius
  • Perut kembung dan membengkak
  • Frekuensi muntah meningkat dan berlangsung lebih lama, serta tidak menunjukan tanda-tanda akan membaik
  • Ada bercak darah pada muntahannya

Nah Sahabat Sehat, itulah beda muntah dan gumoh dilihat dari sisi masalah yang ditimbulkan pada tumbuh kembang si kecil. Jika Sahabat Sehat memerlukan bantuan konsultasi masalah kesehatan si kecil, terutama masalah si kecil yang sering muntah, segera manfaatkan layanan konsultasi dokter gratis dari Prosehat.

Manfaatkan sekarang: Layanan Konsultasi Kesehatan Anak Gratis

Referensi:

  1. Healthy Children. Why Babies Spit Up [Internet]. USA : Healthy Children; [cited 2021 Nov 18].
  2. Mayo Clinic. Spitting up in babies: What’s normal, what’s not [Internet]. USA : Mayo Clinic; [cited 2021 Nov 18]. 
  3. Better Health. Children and vomiting [Internet]. USA : Better Health; [cited 2021 Nov 18]. 
  4. Family Doctor. Spitting Up in Babies [Internet]. USA : Family Doctor; [cited 2021 Nov 18].
  5. Web MD. Spitting Up and Vomiting in Babies [Internet]. USA : WebMD; [cited 2021 Nov 18].

Chat Dokter 24 Jam